Lectio Divina: Pertunjukan Teater Eksplorasi Doa dan Dosa

Selasa, 20 Mei 2025, Teater Pata dan Rokateater menghadirkan sebuah pertunjukan yang menggugah, “Lectio Divina”, pada Selasa malam, 20 Mei 2025.

Mengambil tempat di Aula Rumah Jabatan Bupati Sikka, pertunjukan ini menggabungkan elemen doa, pengakuan dosa, dan perjalanan iman. Delapan pemain dengan delapan cerita penuh luka menggugah penonton untuk merenung dalam perjalanan batin, menembus batas antara keyakinan dan keraguan, pengakuan dan kesaksian.
Bertajuk “Lectio Divina” (yang berarti “Pembacaan Ilahi”), para aktor yang terlibat dalam pertunjukan ini: Amel Mare, Elias Ledo, Yohanes FR. Sola, Florianus Dhika, Isabella Daud Kadaty, Maria Rosari Kolit, Petrus Taena, dan Yelitas Usboko, memerankan karakter yang mendalami tema pertobatan dan pencarian diri dalam dunia yang penuh dengan ketegangan spiritual dan sosial.
Pertunjukan dimulai dengan sebuah adegan yang menggambarkan perenungan tentang kematian, di mana Yoris—diperankan oleh salah satu aktor—berbicara tentang masa lalunya sebagai seorang frater, berdiri di tepi pantai dan berbicara dengan gelombang.

Dialognya menggambarkan perasaan yang tercabik antara perasaan duka, pengorbanan, dan kehilangan dalam konteks kehidupan rohani. Ini diikuti oleh serangkaian pertanyaan yang melibatkan semua pemain, termasuk pertanyaan-pertanyaan besar yang mengarah pada makna hidup dan kematian.

Penuh dengan simbolisme dan metafora yang dalam, salah satu adegan penting adalah peran Ganjos dan Ando yang dengan keikhlasan dan keteguhan hati ingin menjadi imam, meskipun menghadapi berbagai kesulitan hidup, seperti yang diungkapkan dalam kisah pengalaman mereka selama menjadi frater.

Kisah mereka menggambarkan bagaimana keinginan akan kesucian dan pelayanan kepada Tuhan sering kali berbenturan dengan kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tantangan dan godaan. Naskah “Lectio Divina” juga memasukkan teks-teks penting dalam tradisi Katolik, seperti Gaudium et Spes dan Querida Amazonia. Gaudium et Spes adalah dokumen penting dari Konsili Vatikan II yang berbicara tentang kegembiraan dan harapan umat manusia, serta tantangan dunia modern.

Sedangkan Querida Amazonia adalah Exhortasi Apostolik dari Paus Fransiskus yang membahas isu-isu terkait dengan wilayah Amazon dan kehidupan spiritual serta ekologis di sana. Kedua teks ini memberikan kedalaman filosofis dan teologis yang memperkaya pesandalam pertunjukan, menggugah penonton untuk mempertimbangkan hubungan antara iman, ekologi, dan masyarakat dalam konteks global yang lebih luas.

Di samping itu, pertunjukan ini juga menampilkan koor “Gaudium et Spes art. 1” yang menjadi suara latar sepanjang pertunjukan, mengangkat tema kegembiraan dan harapan, tetapi juga mengingatkan akan duka dan kecemasan yang terus membayangi umat manusia.

Teater ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk pertunjukan artistik, tetapi juga sebagai ruang spiritual, di mana penonton diajak untuk merenung, bertanya, dan membuka hati terhadap pengalaman hidup yang penuh dengan paradoks antara iman dan keraguan, doa dan dosa.

Dengan penampilan yang kuat dan tema yang mengundang pertanyaan, “Lectio Divina” menawarkan pengalaman teater yang lebih dari sekadar hiburan, melainkan sebagai ajakan untuk merenung lebih dalam mengenai kehidupan, dosa, dan pengampunan dalam kerangka teologi dan pengalaman manusia sehari-hari.

Share :

3 2 votes
Article Rating
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x