“The more private we become, the more isolated we are from one another, and the less capable we are of engaging with the world.” – Richard Sennet dalam The Fall of Public Man”
Wuring adalah kampung Bajo/Bugis yang masif terbentuk sejak 1950-an. Kini etnis Bajo menjadi satu dari enam etnis besar di Kabupaten Sikka. Meski demikian, interaksi sebagian warga Maumere dengan Kampung Wuring hanya sebatas membeli ikan di Pasar Wuring pada senja hari. Susur Selubung tak hanya menjadi upaya untuk membangun percakapan, namun juga menawarkan pengalaman tubuh untuk mengalami Wuring.
Sebanyak 30 peserta Susur Selubung berkumpul di halaman parkir gerai Alfamart. Sudah jam 4 sore dan langit mendung sore itu, Sabtu, 22 Maret 2025. Rombongan mulai memasuki Kampung Wuring. Pasar Wuring menjadi titik pertama perhentian. Menurut Mak Wahidah, pemandu Susur Selubung, sebelum ada pasar, warga Wuring menjual ikan di pinggir jalan sepanjang kampung, di depan rumah mereka. Pada tahun 2013, Pasar Wuring didirikan dengan dukungan PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat).
Rombongan kemudian menyusuri Kampung Leko. Di Kampung Leko, mereka bersua dengan Haji Adam, mantan RT selama 38 tahun, lebih lama dari Soeharto. Dari obrolan singkat, Haji Adam yang telah tiba di Wuring pada 1965 bersama beberapa warga lain merupakan pelarian saat pecah konflik Kahar Muzakar pada 1950-an di Selayar. Haji Adam juga merupakan penyintas tsunami 1992. Titik lain yang kemudian disusur oleh kelompok Susur Selubung adalah Pelabuhan Rakyat Wuring, masjid, pelabuhan, Salon Haji Mona, dan Kampung Ujung.
Susur Selubung setidaknya mengubah cara pandang para peserta tentang interaksi sosial di Kampung Wuring dan kaitannya dengan ruang privat dan publik.
Yanti Kedo, peserta dari Geliting, melihat begitu cairnya interaksi antar warga yang terjadi di Wuring. Interaksi berlangsung intim dan informal di antara sempitnya lorong kampung yang berbecek, di atas jalan berpapan, di antara bilik-bilik rumah yang berdempetan dan di teras depan rumah yang disulap menjadi kios/warung.
Jurnalis Tribun Flores, Christin Adal melihat pemisahan antara ruang privat dan ruang publik yang ketat khas kehidupan urban-perkotaan malah luluh dengan sendirinya ketika dia berada di Wuring.
Bagi Christin, Wuring sesungguhnya meruntuhkan konsep tata ruang perkotaan ala Barat yang sudah mapan selama ini. Kampung ini menawarkan konsep alternatif bahwa interaksi sosial dan solidaritas antar warga sangat mungkin terjadi di ruang-ruang yang dibentuk secara organik oleh suatu komunitas masyarakat, dan bukan dibentuk oleh logika individualisme masyarakat industri kapitalistik.
Pengakuan Yanti dan Christin ini persis menyoal apa yang dijelaskan oleh Richard Sennett, seorang sosiolog, dalam bukunya The Fall of Public Man (1977). Richard membahas bagaimana ruang publik yang telah berubah turut berdampak pada interaksi sosial dan kehidupan sosial secara keseluruhan.
Richard membedakan antara kehidupan publik dan pribadi. Ia berpendapat bahwa dalam masyarakat modern, ada kecenderungan untuk memisahkan kedua dimensi ini secara tajam. Kehidupan pribadi seringkali lebih diprioritaskan, sementara kehidupan publik, yang melibatkan interaksi sosial di ruang terbuka atau ruang bersama (seperti di jalanan, taman, atau tempat umum), semakin terpinggirkan.
Ruang publik telah berubah menjadi tempat di mana orang cenderung terisolasi satu sama lain, menghindari interaksi yang lebih mendalam, dan hanya berfungsi sebagai ruang transaksional atau sebagai tempat yang didominasi oleh kontrol sosial.
Hadirnya minimarket dengan ruangan ber-AC dan pelayanan super ramah di Maumere menggantikan warung dan kios-kios warga menjadikan interaksi antar manusia semakin sempit. Di minimarket, interaksi yang dilakukan berdasarkan ketentuan dan merupakan formalitas, namun pada warung dan kios-kios warga, keterikatan dapat dilihat lebih jauh karena ada kemungkinan ketergantungan secara ekonomi seperti utang-piutang, obrolan ringan, hingga ikatan kekeluargaan.
Akibat kurangnya koneksi sosial yang bermakna dengan orang lain di ruang publik, menurut Richard, individu sering merasakan alienasi yang berujung pada ketidakmampuan untuk merasakan solidaritas atau rasa memiliki terhadap komunitas.
Susur Selubung adalah salah satu upaya menciptakan ruang interaksi untuk saling mendengarkan cerita dan mempercakapkan peristiwa yang sudah berlangsung di kota Maumere dan sekitarnya. Cara pandang akan etnis lain yang berbeda, sejarah yang barangkali tidak dialami oleh generasi baru, atau perspektif tentang kota dapat dipertukarkan di ruang ini. Susur Selubung menjadi tawaran ruang lain untuk turut mengalami kota dari bentuk yang lain, semacam touring namun bukan turistik, semacam melintas sejarah dari cara pandang masa kini.
Susur Selubung Kampung Wuring merupakan satu dari program publik pra festival Maumerelogia 5. Susur Selubung mendapat antusiasme dari warga Maumere, sebanyak 30 peserta publik yang hadir, jauh dari yang dibayangkan. Mak Wahidah, waria dan kader posyandu di Wuring menjadi pemandu Susur Selubung di Kampung Wuring.
Kira-kira dua jam berlalu, Susur Selubung pun usai. Para peserta kembali ke titik kumpul yang pertama. Hampir sebagian peserta mengaku baru pertama kali menyusuri Wuring sampai ke Kampung Ujung.
Adrianus Bareng, Guru SMPK Frateran Maumere, mengaku selama 29 tahun tinggal di Maumere, ini kali pertamanya dia menelisik masuk hingga ke pelosok kampung Wuring.
Fitri, mahasiswi dari Universitas Muhammadiyah Maumere, menyebut perjalanan itu merupakan pengalaman pertamanya menyusur Wuring dan mengetahui kerja-kerja waria dari cerita Haji Mona.
Meski tak masif, setidaknya apa yang diharapkan dari forum ini sedikit tercapai: membuka percakapan akan apa yang pernah terjadi di Kampung Wuring khususnya, dan Maumere umumnya.