Observasi Kota, Peserta Workshop Menulis Jadi Lebih Dekat dengan Maumere

Sebanyak 15 peserta Workshop Menulis Kota Berbasis Gender membuat observasi kota di tiga pasar yang ada di Kota Maumere. Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk mengobservasi Pasar Alok, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pasar Tingkat Maumere, Selasa, 8 April 2025 pagi.

Sehari sebelumnya Khanis Suvianita, fasilitator workshop, membekali para peserta dengan pemahaman akan orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender dan karakteristik seksual. Lalu, dia memberikan panduan kepada peserta sebelum melakukan observasi kota.

M Aan Mansyur, salah satu fasilitator, meminta peserta untuk melihat hal-hal yang spesifik yang ada di pasar, atau bahkan melihat hal-hal yang tak terlihat dari apa yang nampak di pasar.

Didampingi anggota Komunitas KAHE, para peserta pun dengan antusias menelusuri pasar, berinteraksi dengan para pedagang dan pengunjung pasar serta memperhatikan secara saksama bagaimana setiap pasar itu punya gairahnya masing-masing.

Observasi kota bertujuan memperkenalkan peserta pada dinamika ruang publik di kota, dan merekam jejak kehidupan masyarakat kota dari sudut pandang gender secara lebih dekat dan personal.

Para peserta diajak untuk mengamati aktivitas sehari-hari, berinteraksi dengan warga pasar, serta merasakan bagaimana sesuatu yang secara fisik terjadi di ruang publik mampu mempengaruhi tatanan hidup yang lebih dari sekedar bertransaksi di pasar.

Di Pasar Alok, misalnya, para peserta mengobrol dengan dua orang pedagang waria dan transpria, dan mereka menemukan kedua pedagang itu begitu luwes menjajakan barang dagangannya tanpa memikirkan pandangan orang lain terhadap identitas gender mereka. Bahkan sesama pedagang lainnya menerima dan memperlakukan pedagang waria dan transpria ini dengan sangat normal.

Selain itu, masih di Pasar Alok, peserta workshop: Apriano Josman, Silvy Chipy, Kerin Degerald, dan Roswita Irma Suswanti, menyusuri area pemotongan daging sapi dan penjualan moke (minuman tradisional beralkohol yang disadap dari buah lontar). Mereka menemukan pedagang moke lebih didominasi oleh kaum perempuan.

Sama halnya juga di area penjualan ikan yang para penjualnya didominasi oleh kaum perempuan.

Tidak hanya mengobservasi interaksi antara penjual dan pembeli, para peserta juga melihat angkutan kota (angkot) dengan nama ‘Pangeran’. Ini lebih dari sekedar nama angkotan kota. Menurut seorang peserta, ‘Pangeran’ seperti menjadi metafora tentang bagaimana kekuaasaan hadir secara halus dan mengakar dalam keseharian kita.

Observasi ini menjadi cara untuk memahami denyut kota dari titik-titik yang sering luput dari perhatian. Peserta diajak untuk menyelami pasar dan segala kompleksitasnya sehingga mampu menulis kota secara utuh dan lebih intim.

Workshop Menulis Kota Berbasis Gender diselenggarakan oleh Komunitas KAHE sebagai rangkaian dari acara Pra Maumerelogia 5 dan berlangsung selama 3 hari, 7-9 April 2025.

M Aan Mansyur (penulis) dan Khanis Suvianita (Dosen IFTK Ledalero) memfasilitasi langsung workhop ini.

Hasil dari observasi ini akan dikembangkan menjadi karya tulis yang merefleksikan wajah kota dan kehidupan masyarakatnya dalam perspektif gender yang kemudian akan diterbitkan pada beberapa platform media komunitas KAHE.

Para peserta berasal dari latar belakang profesi yang berbeda. Ada Mahasiswa IFTK Ledalero, Universitas Muhammadiyah Maumere, dan Universitas Nusa Nipa, jurnalis perempuan, penulis maumerelogia.com, dan warga yang memiliki minat pada dunia kepenulisan.

Share :

0 0 votes
Article Rating
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x