Jamming Sastra 10: Leisplang dan Suara yang Semakin Keras

Leisplang bukan sekadar kelompok musik penghibur di hajatan-hajatan nikah atau festival-festival budaya. Lebih dari itu, Leisplang adalah suara dari yang tak bersuara.

Grup musik beranggotakan delapan orang pemuda ini terdengar bersuara semakin keras pada Jamming Sastra Komunitas KAHE Maumere di kawasan Malam Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Night), Jalan El Tari, Maumere, Sabtu, 15 Maret 2025.

Alunan gong waning yang penuh semangat membuka keseluruhan penampilan Leisplang. Warga yang sedang asyik berburu kuliner di kawasan itu pun tergoda mendekat ke panggung. Leisplang menghentak penonton dengan tiga lagu pembuka sebelum Kikan dan Carlin Carmadina memandu obrolan bersama Leisplang.

Leisplang mengusung genre etno-tradisi dengan memainkan alat musik tradisional seperti juk, gitarlele, biola, bas teren, jimbe dan perangkat gong waning. Kelompok ini beranggotakan: Erick Bagoez’t, Beno Meko, Abel Fernando, Vian Serafin, Piduk Alfridus, Tanto, Obeth Cealtie dan Alfred Samputra. Di Maumere, orkestra seperti Leisplang biasa disebut musik kampung. 

Dalam obrolan—yang menjadi ciri khas setiap pertunjukan jamming sastra—Leisplang menguak proses kreatif mencipta lagu, aktivitas berkesenian selama ini dan apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan.

Tak hanya menjadi penghibur di banyak tempat pesta, grup yang berdiri pada 26 Oktober 2017 ini juga pernah menjuarai festival musik kampung yang digelar di Kota Maumere. Lalu, pada 19-31 Juli 2023, Leisplang hadir di 7th Melanesian Arts and Culture Festival  (MACFEST) di Port Villa, Vanuatu.

Kekuatan Leisplang tidak hanya terlihat dari kualitas vokal dan musikalitas masing-masing personel, tetapi juga keahlian mereka ‘menusuk telinga’ penonton dengan syair tajam berisi kritik sosial dan romansa akan ‘kampung’.

Lagu Batas, misalnya, memotret secara jelas konflik tanah masyarakat adat dengan korporasi atau penguasa. Lagu ini dirilis pada 13 Desember 2024, dan sebulan kemudian atau tepat pada 22 Januari 2025, pecah konflik di perkebunan Nangahale antara korporasi milik Keuskupan Maumere dan masyarakat setempat. Korporasi itu menggusur ratusan rumah warga dengan dalil kepemilikan sertifikat Hak Guna Usaha (HGU). Suara Leisplang dalam lagu Batas mewakili suara dari orang-orang kecil tersebut.

Lagu Batas merupakan bagian dari inisiatif “Frekuensi Perangkap Tikus” oleh Indonesian Corruption Watch yang menggunakan musik sebagai medium untuk menyoroti perjuangan komunitas adat yang menghadapi ancaman atas tanah leluhur mereka.

Menariknya, cerita Erick Bagoez’t, lirik pada bagian chorus lagu ini diambil dari Kitab Amsal 22: 28 dan 23:10. Bunyinya, “Jangan kau pindahkan batas tanah yang lama/tanah pertiwi warisan leluhur/Jangan kau pindahkan batas tanah yang lama/ini tanahku ini hidupku.”

Musisi dari Kampung Kloangpopot ini kemudian menafsir lebih jauh makna dari Batas. Menurut dia, Batas tidak hanya bicara soal tanah sebenarnya.

“Lagu ini juga bicara tentang hidup. Hidup itu ada batasnya, kita harus tahu batasnya,” pesannya. Moke, sekadar dia memberi contoh, merupakan minuman identitas orang Maumere. Moke tidak merusak generasi muda Maumere. Tetapi, generasi muda yang minum moke berlebihan yang merusak citra moke.

Lagu-lagu Leisplang kebanyakan berbahasa Krowe-Sikka dan lirik-liriknya bercerita tentang tegangan antara masa lalu-masa depan dan dinamika warga yang masih menghidupi tradisi serta modernitas. Semangat ‘dekolonial’ seperti ini juga terdengar keras saat Leisplang mendendangkan lagu baru yang belum dirilis resmi, Lopa Diri Hulir Prina Hala dan Flores Nuhan Ular. Lagu yang disebut pertama menggugat anak-anak yang mulai lupa dengan pesan orang tua di kampung. Terdengar klise memang, tetapi terselip ratapan terhadap gaya hidup individualistik yang menguat kini. Sedangkan lagu lainnya membangkitkan imajinasi akan mitos Flores sebagai pulau ular, mitos tua yang dulu ‘dirayakan’ tetapi sekarang dilupakan.

Produser Jamming Sastra, Kartika Solapung, menyebutkan pertunjukan Leisplang malam itu merupakan bagian dari program Jamming Sastra #10 Komunitas KAHE Maumere dan penutup dari workshop manajemen produksi-pengelolaan festival. Jamming Sastra merupakan platform seni yang disajikan sebagai ruang bertemu dan berbagi cerita bagi para seniman sastra dan musik. Platform ini menjadi wadah apresiasi dan publikasi pelbagai ide, gagasan dan pengetahuan di balik karya seniman.

Jamming Sastra edisi ini menurut Kartika menjadi momen yang istimewa karena dua hal. Pertama, untuk pertama kalinya acara itu digelar di arena Car Free Night, Jalan El Tari Maumere. Kedua, gigs kecil itu juga menjadi semacam pengumuman kepada warga Maumere bahwa Komunitas KAHE akan menggelar festival Maumerelogia 5 Kultur, Kota, Kita yang akan terselenggara pada 15-24 Mei 2025.

Demikianlah, Gong Waning, Bako Koli, ½ Gila, Bekor, Sora, Pertanian, Yesenia dan Buru Boreng merangsang penonton untuk berjoget ria di bawah bias cahaya purnama dan pendar lampu Jalan El Tari. Pertunjukan Jamming Sastra malam itu seolah menunjukkan seperti apa Maumerelogia 5 nanti digelar. Akan tetapi, lebih dari itu, Leisplang semakin bertumbuh, dan suara mereka semakin keras terdengar.

Share :

5 1 vote
Article Rating
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x