Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: Apakah kita semua siap? Siap untuk segala hal—perubahan besar maupun kecil. Siap untuk menerima, berdamai, dan melangkah.
Percakapan saya bersama Ricky Alvino, personel band Mood Breaker, menjadi titik tolak renungan ini.
Obrolan yang memang saya niatkan untuk menggali lebih dalam tentang makna, proses, dan tujuan di balik terciptanya lagu “Moffers, Are You Ready?“—yang dibawakan Mood breaker sebagai penutup perhelatan puncak Maumerelogia 5 di Pusat Jajanan dan Cinderamata, Sabtu, 24 Mei 2025—justru menggiring saya pada pertanyaan reflektif: Apakah saya siap?
Ricky menceritakan kecintaannya pada Nian Tana Sikka, tempat di mana akar dan identitasnya tumbuh. Keresahannya muncul dari stereotip orang kota terhadap keaslian suatu suku atau etnis, yang sering dianggap “kurang modern” atau “terbelakang”. Stereotip inilah yang memicu lahirnya lagu “Moffers Are You Ready”.
Melalui lirik-liriknya, Ricky bersama Mood Breaker ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak malu atau merasa minder akan identitas etnisnya—entah itu dari Tana Ai, Palue, Tidung Bajo, Krowe, Lio. Justru dari keberagaman inilah lahir kultur Maumere yang kaya dan hidup. Kebhinekaan itu bukan untuk disangkal, tapi dirayakan.
Salah satu lirik yang mereka nyanyikan berbunyi, “Mother earth takes care and the heaven will provide. Lepo Pitu Woga Walu kulababong reta wutu.” Di dalamnya terkandung refleksi filosofis yang berakar dalam kearifan lokal.
Frasa “Mother earth takes care” menggambarkan tanah sebagai sosok ibu yang memberi kehidupan, tempat berpijak, dan sumber penghidupan yang wajib dihormati dan dijaga.
Sementara “the heaven will provide” mengandung keyakinan akan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas—bahwa ketika kita hidup selaras dengan bumi, rezeki dan berkah akan datang dari langit.
Lalu ungkapan “Lepo Pitu Woga Walu kulababong reta wutu”, menekankan pentingnya musyawarah, diskusi, dan kebersamaan sebagai jalan damai dalam menyelesaikan perbedaan.
Lirik ini tak hanya menyerukan cinta pada alam, tapi juga menegaskan bahwa keberagaman dalam budaya, bahasa, dan cara pandang adalah kekuatan yang memperkaya, bukan ancaman yang harus disingkirkan.
Di tengah upaya pembangunan dan eksploitasi sumber daya seperti proyek geothermal yang kini mulai gencar dikembangkan di beberapa wilayah Flores—termasuk di dekat kawasan adat—pertanyaan tentang “kesiapan” menjadi semakin relevan.
Pembangunan yang tidak memperhitungkan relasi spiritual dan kultural masyarakat lokal dengan alam bisa dengan mudah memicu konflik dan mengikis nilai-nilai yang selama ini menjaga harmoni antara manusia dan lingkungannya.
Lagu ini, secara tak langsung, juga menjadi pengingat bahwa pembangunan seharusnya tidak hanya soal kemajuan teknis, tapi juga soal keberlanjutan nilai dan penghormatan terhadap tanah yang dianggap sebagai ibu.
Dalam bukunya Orientalism (1978), Edward Said menjelaskan bagaimana dunia Barat membentuk gambaran tentang “Timur” sebagai sesuatu yang primitif, eksotik, dan irasional—sebuah konstruksi yang tidak berdasarkan kenyataan, melainkan pada hasrat dan kepentingan Barat itu sendiri. Orientalism bukan hanya cara pandang, tapi juga sistem kuasa dan produksi pengetahuan yang terus membentuk cara kita menilai “yang lain”.
Sayangnya, cara pandang ini juga tercermin dalam keseharian masyarakat kita. Di Maumere sendiri, pemikiran seperti itu perlahan menjadi kultur turunan. Tak sedikit anak muda yang tumbuh dengan rasa minder karena dianggap berasal dari “Timur”. Mereka mulai menjauh dari jati dirinya, bahkan malu untuk mengakuinya.
Apa yang dilakukan Mood Breaker adalah upaya membalik narasi itu. Dari narasi yang penuh stereotip, menjadi narasi kebanggaan.
Dalam salah satu liriknya mereka menegaskan: “Kita menuju ke Tana Ai Tribe, wilayah paling timur and organic. Respect matrilinear system, rise our hand for TANA PUAN.” Lagu ini adalah bentuk perlawanan yang subtil namun kuat.
“Mood Breaker adalah cara kami, teman-teman dari Wolet, menyuarakan keresahan kami tentang stereotip itu—lewat musik, karya, dan bunyi. Bahwa kami orang Wolet bukan seperti yang orang kota pikirkan,” ujar Ricky, drummer Mood Breaker sekaligus pencipta lagu tersebut.
“Sekarang bisa kita lihat, di atas panggung sebesar apa pun, beat badublaba bisa membuat orang luar terpesona dan kagum,” tandasnya.
Mood Breaker ingin agar generasi muda Maumere tidak malu mengakui jati dirinya. Mereka ingin menunjukkan bahwa anak muda dari daerah timur Maumere—khususnya Wolet (Wolon Let)—bisa membuat perubahan positif. Bukan dengan menolak modernitas, tetapi dengan memaknai kembali akar budaya mereka.
Teriakan sang vokalis, Ian Majorita, “Moffers, are you ready? Masih kencang?” bukan sekedar sapaan kepada penonton, melainkan pertanyaan mendasar yang menggugah kesadaran kolektif kita—terutama generasi muda.
Ia adalah ajakan untuk kembali mengencangkan nilai-nilai budaya luhur yang mulai longgar, memperkuat ikatan persatuan sebagai orang Maumere tanpa memandang latar belakang etnis. Sebuah seruan agar kita tidak mudah terfragmentasi oleh cara berpikir sempit dan kolot, seperti yang pernah dikritik Edward Said dalam gagasannya tentang konstruksi pandangan dunia terhadap “yang lain.”
Pada akhirnya, “Moffers, Are You Ready?” bukan hanya lagu penutup dari malam puncak perhelatan Maumerelogia 5. Ia adalah seruan sunyi namun menggelegar. Sebuah pertanyaan yang menggema dalam hati setiap orang yang lahir, tumbuh, tinggal, atau bahkan hanya sekadar mampir ke tanah ini: Apakah kita benar-benar siap menyambut masa depan, tanpa melupakan akar tempat kita berpijak?
Terima kasih Mood Breaker.
Terima kasih Ricky, Ian, Anong, Abel, Deljhok dan Fonza
Terima kasih kerryn dan moodbreaker🫰🏻
Wolet Pride🔥🔥
Selalu menarik la Keryn… smngat org muda Maumere😇🥰
Mantap jiwa 🥰
Megu Mo’ong
Ama Pu Benjer❤️😊
Epan Gawan.