Melodi Memori Maumere: Flores Bukan Nusa Geothermal dan Nada-nada dari Mulut Ibu

Membahana suara dari panggung, bermandikan cahaya lampu. Alunan musik pelan bertaut dengan suara aktivitas orang-orang berjualan di pasar, dan teriakan sopir angkot di terminal.

Dalam balutan tenun dan ikat kepala dari daun lontar (lado), para musisi Melodi Memori Maumere menampilkan repertoar yang epik, memadukan melodi mayor dan minor, irama ritmis suara gong, gendang dan bunyi terompet, bersama syair-syair kegelisahan dan harapan.

Komposisi musik bertajuk Siruwisu (Geothermal) terlebih dulu merekam aktivitas harian warga di pasar, terminal, dan jalan-jalan kota. Komposisi ini memuncak pada jeritan batin warga yang ditindas, serupa simfoni perlawanan dari tanah Flores.

Ini jelas bukan sekadar musik. Ini tentang apa sesungguhnya arti melawan, berjuang.

Nusa Bunga bukan nusa geothermal

Bersembunyi di balik kesejahteraan

Bersembunyi di balik ramah lingkungan

Bersembunyi di balik aturan yang sepihak

Lobi sana lobi sini

Garap sana garap sini

Paraf sana paraf sini

Nusa Bunga bukan nusa geothermal

Kalimat-kalimat ini dilantunkan keras, membius penonton yang hadir di Pusat Jajanan dan Cendera mata, lokasi pertunjukan musik Maumerelogia 5 dilangsungkan, Jumat 23 Mei 2025 malam.

Suatu pernyataan tegas disuarakan, Flores sedari dulu adalah Nusa Bunga, bukan pulau geothermal (Nusa Geothermal) seperti narasi sepihak pemerintah pusat dengan ambisi pariwisata neoliberalnya.

Dari atas panggung pertunjukan Melodi Kota Maumerelogia, simfoni anak-anak yang terluka semakin kencang terdengar. Dan luka Flores adalah luka menganga proyek-proyek tambang ekstraktif, atas nama pembangunan, atas nama kemajuan, tetapi sebenarnya itu tragedi.

Melodi Memori Maumere menyuarakan kembali ratapan masyarakat kecil di Mataloko, rintihan hati masyarakat adat Poco Leok, tangisan warga Nangahale yang rumahnya digusur, dan ketakutan petani lahan kering di Atadei Lembata yang menolak tanah pertanian mereka dijadikan lokasi proyek panas bumi. Melodi Memori Maumere menyambung lidah para korban proyek geothermal yang tak pernah tidur nyenyak di atas tanah mereka sendiri.

Siruwisu menyulam elemen bunyi-bunyian modern dan tradisi, persis seperti tegangan-tegangan identitas kota pascakolonial, permainan tempo cepat dan lambat seperti melintas jalan-jalan berlubang laiknya perjuangan mendekonstruksi narasi kolonialisme di Flores.

Komposisi kedua yang dimainkan dalam pertunjukan ini seperti alarm untuk ‘pertobatan ekologis’, frasa terkenal yang dipopulerkan oleh mendiang Paus Fransiskus.

Awas murka, awas murka, awas alam murka.

Sebuah peringatan yang acapkali terdengar dari nasihat orang tua dulu, mengalir pelan ke telinga penonton lalu menembus langit sebagai nada-nada yang (pernah) tumbuh dari mulut Ibu.

Awas alam murka menutup Siruwisu dengan pernyataan afirmatif: Nusa Flores bukan nusa geothermal.

Melodi Memori Maumere adalah kelompok musisi Maumere yang sebelumnya pernah terlibat dalam Residensi Rantai Bunyi pada 2023. Mereka adalah Alfonsa Anastasia Ninong, Bernabas Aksel, Beno Meko, Erick Bagoezt, Marianus Simon, Mathilda Elisa, Christabel Agustino, Ricky Alvino, Will Bass dan Pep Stevanus.

Di Festival Maumerelogia 5, mereka mempresentasikan lima komposisi musik berdasarkan hasil kajian dan penggalian sounscape di Maumere, Flores.

Komposisi musik pertama berjudul ‘Pagi’, balada indah yang bercerita tentang gerak-aktivitas harian warga Maumere menyambut pagi. Lagu ini diciptakan oleh Erick Bagoezt, dia dikenal juga sebagai salah satu pentolan orkes kampung Leisplang.

Seperti kata Pep Stevanus, fasilitator Rantai Bunyi sekaligus penabuh drum dalam pertunjukan tersebut, ‘Pagi’ merefleksikan koreografi warga menyambut datangnya mentari di pagi hari; perempuan mulai memasak, anak anak bergegas ke sekolah, bapak menyeduh kopi, menapaki langkah ke kebun, memanjat pohon tuak, atau sopir angkot melaju ke arah terminal kota.

Kahe adalah komposisi ketiga yang memukau, sebuah perpaduan irama orkes kampung dan lirik puitis dalam bahasa Krowe-Sikka. Tak butuh waktu lama, lagu ini langsung membuat penonton menghentakkan kaki dan menggoyangkan badan pada pukulan pertama.

Komposisi ini dipersembahkan khusus untuk Komunitas KAHE yang menginisiasi Festival Maumerelogia 5 dan selama 10 tahun telah terjun dalam kerja-kerja kesenian dan kebudayaan di bumi Nian Sikka, Flores. Pep bilang Kahe adalah agen kultural, sekumpulan intelektual organik yang membuat warga merenung kembali kultur, kota, kita hari-hari ini.

Komposisi ini hadir sebagai refleksi kalau Komunitas KAHE juga telah menjadi bagian dari perjalanan kultur, kota, kita di Maumere. Pep Stevanus tampil dengan solo drum pada komposisi keempat. Panggung yang tadinya bercahaya berubah remang-remang. Musisi asal Jawa Timur ini memulai kampanyenya di atas panggung.

Beyond Medication, judul komposisinya, merangsang penonton dengan percakapan orang berjualan obat di tengah riuhnya pasar. Tawar menawar penjual obat dan calon pembeli menyelinap dalam keheningan pertunjukan.

Pep merespon suara-suara itu dengan pukulan drum yang memacu adrenalin, seperti letupan-letupan emosi yang membuncah perlahan-lahan dari kedalaman jiwanya.

Pep punya keprihatinan pada peristiwa kematian ibu dan anak di Maumere karena tidak ada dokter anestesi di rumah sakit. Kejadian beberapa waktu lalu ini membuat hatinya terenyuh. Jiwanya tergerak untuk bersuara. Lahirlah komposisi magis Beyond Medication.

Pertunjukan Melodi Memori Maumere ditutup dengan komposisi kelima berjudul Genesis yang mengangkat mitologi tua kosmologi Flores sebagai pulau ular. Genesis dibuka dengan bunyi delay efek gitar elektrik bercampur dengan pukulan gong dan gendang, bunyi-bunyi itu saling bersahutan, mengajak penonton masuk ke dalam suatu pengalaman spiritual yang berbeda.

Ibarat seorang mistikus, Erick Bagoezt mulai merapalkan syair-syair dalam bahasa Krowe-Sikka yang bercerita tentang ‘kisah penciptaan’ Flores dalam kepercayaan masyarakat setempat.

Di ujung syair, dia bersungut, merintih dengan kepala mendongak ke langit, lalu lanjut menabuh gong. Ricky menyambut bagian chorus dengan lengkingan suara yang berat.

Komposisi ini sungguh sakral, membawa kembali nada-nada yang datang dari masa lalu untuk dihayati saat ini, menebarkan optimisme akan hidup yang lebih baik di masa depan. Genesis berakar pada suara-suara tradisi, bersumber dari apa yang (pernah) ada, dan bertolak dari lokalitas yang mampu menguak nilai-nilai universal kepada dunia.

Lima komposisi musik dalam pertunjukan ini merangkum keseluruhan gagasan yang bergulir di sepanjang Festival Maumerelogia 5 tentang upaya merawat ingatan-ingatan, tradisi, bahasa, pengetahuan, spiritualitas dan identitas yang jamak (bahasa Ibu).

Share :

5 2 votes
Article Rating
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Bernadetta
Bernadetta
2 months ago

The Best 🥰❤️‍🔥
Horooo da’a weeengg🚀

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x