Sebuah diskusi publik bertajuk, ‘Saya’ Dalam Semesta Pertunjukan digelar dengan menghadirkan para pembicara: Shohifur Ridho’i, Mira Hurint, dan Intan Mude, serta dipandu oleh Rio Nuwa di Aula Karmel Wairklau, Rabu, 21 Mei 2025.
Program ini menjadi ruang bercerita, dari masing-masing pembicara, membahas proses kreatif dalam proses pengkaryaan yang dibuat.
Mira Hurint, mewakili kelompok Bohemian Club, membawakan pertunjukkan dramatic reading berjudul “Misa Requem di Kebun.”
Shohifur Ridho’i bekerja sama dengan Teater Pata dalam pertunjukan “Lectio Divina”, juga Intan Mude, salah satu aktor dalam pertunjukan “The Brief History of Dance”, hasil kolaborasi antara
sutradara Ari Dwianto dan Studio Teater KAHE.
Diskusi menyoroti peran tubuh dalam pertunjukan seni sebagai medium ekspresi sekaligus alat intervensi terhadap narasi dominan. Panggung dipahami bukan hanya sebagai tempat ekspresi, tetapi juga sebagai ruang negosiasi, pengakuan, bahkan perlawanan terhadap struktur kekuasaan yang mengatur kehidupan sehari-hari.
Beberapa karya dalam Maumerelogia turut dibahas sebagai contoh konkret. Dalam karya-karya ini, cerita-cerita personal diolah menjadi material pertunjukan, di mana aktor yang tampil adalah pemilik langsung dari cerita tersebut.
Pendekatan ini memperkuat hubungan antara representasi dan presentasi dalam pertunjukan, serta menghadirkan dimensi reflektif sekaligus spekulatif terhadap realitas sosial.
Pertunjukan “The Brief History of Dance” tidak hanya berbicara tentang perubahan sosial yang terlihat nyata, tetapi juga mengangkat kesenjangan antar-generasi. Dari pengaruh generasi baby boomer hingga Gen Alpha, tiap generasi membawa cara pandang dan pengalaman hidup yang berbeda terhadap negara, pemerintah, dan kehidupan sosial.
Dalam satu bagian, narasi menunjukkan bagaimana hiburan yang dulunya berbentuk kebersaman, kini beralih menjadi pengalaman yang lebih individualistik dan terpisah oleh layar gawai.
Intan Mude menceritakan, naskah yang mereka pentaskan digarap melalui metode wawancara. Ada dua sesi pertanyaan, yang perlu dijawab oleh para aktor.
“Ada sekitar 59 pertanyaan yang diberikan oleh Mas Inyong (Ari Dwianto), pertanyaan itu menanyakan hal yang sangat spesifik, mulai dari di mana kami tinggal sampai tentang hubungan percintaan kami,” cerita intan.
Rangkaian pertanyaan yang diajukan ini kemudian diolah menjadi naskah pertunjukan dengan menampilkan berbagai bentuk dilema personal para aktor dalam menghidupi kota, tempat mereka tumbuh, juga kota yang dipacu untuk terus berubah dalam arus kemajuan.
Karya lain yang dibahas adalah “Lectio Divina”, sebuah pertunjukan yang menggabungkan elemen spiritualitas dan politik dalam penciptaannya.
Dalam karya ini, tubuh aktor menjadi ruang negosiasi antara pengalaman pribadi dan tuntutan sosial, menciptakan sebuah narasi yang mengajak penonton untuk memikirkan kembali hubungan antara diri, agama, dan struktur kekuasaan yang ada dalam masyarakat.
Naskah ini digarap oleh Shohifur Ridho, dibantu oleh Erich Langobelen, yang berkolaborasi dengan komunitas Teater Pata. Pertunjukan ini juga berangkat dari bentuk percakapan antara para aktor dengan sutradara melalui panduan pertanyaan yang diberikan.
Ridho menjelaskan, rangkaian pertanyaan ini tidak bersifat spesifik, tetapi lebih “general, untuk mengetahui konteks dan ide yang sedang tumbuh di kepala teman-teman (Teater Pata)”.
Dengan bantuan Erich Langobelen, Ridho menggabungkan beberapa teks seperti Gaudium et Spes—dokumen penting dari Konsili Vatikan II yang membahas peran gereja dalam masyarakat modern, juga pesan dari Paus Fransiskus dalam Querida Amazonia, di mana beliau mengajak umat manusia untuk lebih memperhatikan keberagaman budaya dan pelestarian alam dalam konteks iman dan kehidupan sosial.
Ridho juga menambahkan kutipan dari naskah Hamlet, karya klasik Shakespeare yang penuh dengan tema tentang kekuasaan, moralitas, dan konflik internal.
Ridho fokus pada dialog Ophelia. Di dalam teks asli Hamlet, Ophelia berperan sebagai karakter yang berjuang dengan peranannya sebagai anak perempuan yang patuh kepada ayahnya (Polonius) dan saudara laki-lakinya (Laertes), sambil menghadapi kecintaan Hamlet yang ambigu.
Ridho melihat, bagian Ophelia bisa diubah menjadi “ekspresi dari tubuh yang berontak, melawan narasi tentang ketidakberdayaan.”
Penggabungan berbagai teks ini memberi lapisan filosofi yang mendalam, menciptakan sebuah karya yang tidak hanya membahas spiritualitas dan agama, tetapi juga merespons realitas sosial-politik masa kini.
Dalam Lectio Divina, tubuh para aktor bukan hanya sebagai media untuk menyampaikan teks, tetapi juga sebagai ruang perlawanan terhadap narasi dominan yang ada dalam masyarakat. Karya ini menggali bagaimana agama, politik, dan kekuasaan saling berkaitan dan bagaimana mereka membentuk identitas dan kehidupan warga.
Mira, menceritakan bagaimana pembentukan naskah “Misa Requiem di Kebun”, merupakan alih wahana dari novel ‘Surat-Surat Dari Dili”, karya Maria Matildis Banda.
Dalam alih wahana ini, Bohemian Club memilih mendalami cerita soal karya ini mengisahkan tentang Fransisco dan keluarganya yang memiliki perkebunan luas di Timor Leste, yang kemudian menjadi sasaran iri hati dari tetangganya, Manuel.
Berkolaborasi dengan tentara PIDE, Manuel membuat tuduhan palsu terhadap Fransisco dengan mengirim perempuan yang sedang sekarat ke perkebunan mereka, dan Fransisco dituduh melakukan pemerkosaan dan pembunuhan.
Melalui metode penciptaan bersama (collective creation), acara ini menekankan pentingnya agensi seniman dan penonton dalam membayangkan dunia yang lebih adil dan inklusif, menjadikan pertunjukan sebagai intervensi sosial yang bermakna. Acara ini menjadi bagian dari upaya memperluas diskursus mengenai seni, tubuh, dan politik di ruang publik Indonesia kontemporer.