Lectio Brevis
Teori Dekolonial: Pengantar Merawat Masa Depan Selatan
Hari/Tanggal : Jumat, 16 Mei 2025
Waktu : 10:00 – 12:00 WITA
Tempat : Aula Maximum Lantai 3 Kampus 2 IFTK Ledalero
Tautan pendaftaran: s.id/LectioBrevis
Dalam banyak konteks masyarakat kota yang mulai berkembang, modernitas dihadapi nyaris tanpa sikap kritis. Proses modernisasi dianggap sebagai situasi ‘terberi’, sebuah fase pasti yang harus dilalui sebuah negara bangsa merdeka yang tengah berkembang. Proses modernisasi seolah jadi bagian niscaya dari sejarah yang linear. Kemajuan dimaknai sebagai efek dari pencerahan, dan dengan demikian berkiblat ke Barat (Eropa). Ukuran-ukuran pertumbuhan ekonomi, kemajuan sumber daya manusia, pendidikan dan teknologi, semua dirujuk pada modernitas Barat, yang developmentalis dan liberalis. Modernitas disederhanakan sebagai perihal kemajuan. Dan kemajuan, seperti nama lain dari masa depan. Tradisi, pengetahuan lokal, bahasa ibu hanya bersinonim dengan masa lalu.
Anibal Quijano memperkenalkan gagasan mengenai kolonialitas kekuasaan. Ia mendedah modernitas sebagai konsekuensi logis dari kolonialisme yang fenomenanya bisa dilacak dari proses unifikasi Amerika sebagai sebuah negara bangsa modern ‘beridentitas Eropa’.
Walter D. Mignolo menyebut modernitas sebagai sisi paling gelap dari kolonialitas. Bertolak dari identifikasi Anibal Quijano, Mignolo melihat kolonialitas sebagai cara berpikir dan rasa-merasa, sistem ekonomi, hirarki sosial, dan ketimpangan teritorial yang tetap mempertahankan relasi kuasa pun dominasi kolonial. Kolonialisme mengalami restrukturisasi dalam model kekuasaan global yang memecah belah negara bangsa modern dalam klasifikasi kelas ekonomi-politik yang timpang: dunia pertama – dunia ketiga, Selatan – Utara.
Lebih jauh, delinking adalah upaya pencarian epistemologi alternatif yang berpijak pada investigasi mendalam terhadap bias-bias kolonialisme pada negara-negara bekas jajahan sekaligus pelacakan kembali kekayaan tradisi serta lokalitas yang bisa digunakan sebagai modal rekonstruksi sistem pengetahuan dan rasa-merasa tempatan yang kontekstual untuk membangun wawasan tentang masa depan yang lebih berkeadilan sosial. Sejarah Konferensi Asia Afrika mencatat bahwa ada upaya membangun kesadaran bersama negara-negara Global Selatan untuk membangun solidaritas lintas batas, memperjuangkan tatanan dunia yang menjamin keberagaman.
Kuliah ini digagas dengan kesadaran akan kenyataan bahwa Flores dan Maumere khususnya mewarisi sejarah kolonialisme dengan demikian fenomena sosial budaya yang hari ini berlangsung sudah semestinya dilihat dengan kesadaran akan adanya bias kolonialisme yang tidak terhindarkan. Maumerelogia ingin mulai memantik persemaian gagasan dekolonial sebagai lensa maupun laku hidup di kalangan warga Maumere untuk melihat secara lebih jeli yang dalam banyak bentuk hadir melalui kuasa wacana dan pengetahuan yang mengabaikan sejarah serta narasi lokal, perampasan tanah oleh korporasi, pembangunan yang tidak berpijak pada kebutuhan rakyat, sistem peradilan yang korup dan menguatnya fundamentalisme agama serta ideologi serta masih banyak fenomena lain yang berlangsung dalam dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya dewasa ini.
Silahkan bergabung dengan mendaftar pada tautan yang tertera. Kuota terbatas. Tersedia sertifikat.