Nara Teater

Kelompok Teater

Flores Timur

Nara Teater didirikan pada tanggal 3 Juni 2016 oleh Silvester Petara Hurit. Nara Teater dibentuk untuk mendorong gairah berteater di Flores Timur. Menjadi wadah tempat para peminat dan pegiat teater bertemu, berdialog serta belajar mengenal, mendalami dan mencintai teater. Nara Teater mendorong dan membantu anggotanya mengembangkan teater dengan membentuk komunitas/kelompoknya baik di lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan maupun tempat domisilinya serta berkolaborasi dengan kelompok/komunitas/lembaga dalam kerja-kerja kesenian (teater) demi membangun ekosistem kebudayaan di Flores Timur.

Nara Teater konsen pada penggalian biografi dan jati diri kultural dengan menjadikan khazanah, mitologi, mantra/sastra tutur, ritus, nyanyian, gerak/tarian sebagai bahan untuk merancang-bangun pertunjukan. Proses kreatif dirancang-bangun bersama berdasarkan segala pengalaman tubuh dan keruangan yang dimiliki aktor. Tempat latihannya di pantai, di laut, di kebun, di halaman rumah sebagai upaya penemuan diri sebagai subyek yang meruang, juga sebagai siasat mengatasi segala keterbatasan.


Proses kreatif Nara Teater adalah upaya menghadirkan tubuh (diri) dalam ruang sebagai sebuah pengalaman penemuan/pembacaan kembali diri dengan segala lapis-lapis pengalaman kedirian/ketubuhan yang dimiliki dalam konteks dan pergerakan waktu yang dinamis. Teater hadir sedekat-dekatnya dengan persoalan hidup masyarakatnya. Terus bicara (:hidup). Berkontribusi kepada publiknya dengan mengelola apa yang ada dan mengoptimalkan apa yang dipunyai.

Produksi Nara Teater:
Ina Benga (2017), OMBA-dah (2017), Ina Lewo (2018), Sade Bero (2020), Mencari Bung (2022), Pulang (2023), Tonu Wujo (2023), Gema Ladang (2023), Herman Yohannes (2024).