Rani Jambak, seorang komposer, produser, perancang instrumen, dan vokalis keturunan Minangkabau yang lahir di Medan. Mendalami eksplorasi musik elektronik dan lanskap suara yang bersumber dari berbagai wilayah di Indonesia. Karya-karyanya sering kali membahas tema-tema yang berkaitan dengan alam, dinamika sosial-budaya, serta hubungan kompleks antara manusia dan warisan leluhur. Dalam eksplorasi identitas budaya sebagai individu Minangkabau, praktik seni Rani menyelami dimensi filosofis dari tradisi Minangkabau dan menyelidiki bagaimana kebijaksanaan leluhur dapat menawarkan jawaban terhadap modernitas. Selain itu, karyanya membayangkan konsep leluhur masa depan, yang berakar pada nilai-nilai spiritual yang memiliki makna penting dalam kehidupan kontemporer. Menyelami kekayaan alam pikir leluhur, Rani merancang instrumen yang terinspirasi oleh kincir air tradisional Minangkabau, Kincia Aia. Instrumen ini berfungsi sebagai kritik terhadap dampak krisis iklim sekaligus sebagai upaya menafsirkan kembali pengetahuan leluhur dalam dimensi yang baru. Selain itu, Rani, bekerja sama dengan Hario, mengembangkan pertunjukan yang berakar pada manuskrip abad ke-19, Tambo Alam Minangkabau, berkolaborasi dengan Naskah Sumatra dari SOAS University of London. Pada awal 2025, ia memperkenalkan karya instalasi audio, Pusako nan Sabana Tinggi (Warisan Paling Berharga), sebuah komposisi suara berdurasi 20 menit yang ditampilkan di ASIA Topa. Sebagai pengakuan atas kontribusinya yang inovatif dalam bidang suara, musik, dan teknologi, Jambak menerima The Oram Awards pada tahun 2022.