Grace Samboh (l. Jakarta) tinggal dan bekerja di Yogyakarta, Jakarta, dan di mana teman-temannya berada. Ia terus-menerus mencari kemungkinan bentuk kerja kuratorial di dalam ruang hidupnya. Klaim bahwa Indonesia kekurangan infrastruktur negara dianggapnya ketinggalan zaman. Melalui penelitian, penulisan, dan kerja kuratorial, ia bersijingkat peran dalam beragam elemen dan lembaga seni di sekitarnya. Ia percaya bahwa kerja kuratorial adalah memahami sekaligus membuat sesuatu pada waktu yang bersamaan. Sejumlah penelitiannya berpihak pada praktik-praktik seni rupa yang tidak membutuhkan pusat maupun stabilitas. Dalam artikulasinya, ia mengaji-ulang hubungan praktik yang ditelitinya dengan kegiatan dan kejadian dari masa lampau serta stabilitas pusat yang kerap tidak merasa aman. Ia percaya bahwa kerja kuratorial adalah memahami sekaligus membuat sesuatu pada waktu yang bersamaan. Bersama Hyphen—, perhatiannya adalah untuk mendorong publikasi penelitian dan proyek artistik dalam konteks Indonesia. Bersama dengan Simposium Khatulistiwa (Yayasan Biennale Yogyakarta, 2010-2018), ia mengeksplorasi kemungkinan terhubungnya banyak orang di sepanjang garis yang membelah bumi ini atas dasar solidaritas, kekaguman terhadap masa lalu, dan optimisme terhadap masa depan. Sejak 2019, ia ikut menata program RUBANAH Underground Hub. Baru-baru ini, ia terlibat dalam berbagai kegiatan dan pameran, antara lain “Jakarta Biennale 2021: ESOK”; “Collecting Entanglements and Embodied Histories”, sebuah kolaborasi antara Galeri Nasional Indonesia, MAIIAM Contemporary Art Museum, Singapore Art Museum, Nationalgalerie – Staatliche Museen zu Berlin, dan Goethe-Institut (2021–2022); “Rewinding Internationalism: Scenes from the 1990s, Today” yang diselenggarakan oleh L’Internationale dan Van Abbemuseum (2022–2023); “Color Curtain and the Promise of Bandung”, serangkaian diskusi meja bundar yang meninjau ulang imajinasi politik Asia-Afrika (2020–sekarang); serta “Jejaring, Rimpang” dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional 2023.