Kultur, Kota, Kita

Apa sesungguhnya yang Kita tunjuk sebagai Kultur hari ini? 

Apakah Kita turut membentuk Kultur Kota? 

Bagaimana membayangkan Kultur, Kota, Kita hari ini? 

Kota hari ini dengan seluruh logika pembangunannya amat dipengaruhi oleh gerak laju modernisasi yang berakar pada sejarah kolonialisme Eropa. Kolonialisme membentuk matriks kuasa kolonial yang membenamkan ideologi modernitas eurosentrisme dan mengarahkan: seluruh gerak pertukaran sumber daya, kerja, dan kepemilikan ke dalam sistem kapital-neoliberal; pemahaman identitas intersubjektif global; dan kendali pengetahuan yang berpusat serta tertuju pada Barat sebagai standar. Kota adalah konsekuensi logis dari sistem ekonomi surplus: kolonialisme baru dalam wujud modernitas. 

Bagi generasi 90’an di Maumere, pengenalan akan modernitas sama kaburnya dengan yang kerap disebut sebagai tradisi. Dua-duanya terdistorsi oleh kolonialisme, yang menghancurkan sistem nilai, norma, rasa-merasa tradisional, sekaligus mengalienasi yang lokal dengan imajinasi tentang ‘kemajuan’ yang linier dan seragam. Pembangunan di Indonesia yang lama tersentralisasi turut mengukuhkan ketimpangan ini. 

Maumere tak seutuhnya kota, tak lagi kampung. Tak sepenuhnya urban, tak sungguh rural. Sebuah modernitas ‘yang tak selesai’. 

Pertanyaan perihal hubungan kultur, kota, dan model kewargaan macam apa yang idealnya dibangun, perlu terus menerus diajukan. Maumere, sebagai kota pascakolonial, dengan banyak sekali preseden soal terkait politik identitas membuka tegangan perihal watak kewargaan: kewargaan pascakolonial yang demokratis berhadapan dengan sistem feodal-patronis, karakter kolektif kolegial dan komunal berhadapan dengan tuntutan masyarakat industrial-birokratis yang individual. 

Apa yang membentuk diri-manusia Maumere hari ini? 

Apakah ‘Kita’ sungguh dibentuk oleh ‘Kultur dan Kota?’ 

Apakah ‘Kultur’ turut dibentuk oleh ‘Kita’ yang bergerak dan berinteraksi dalam ‘Kota’?

Apakah ‘Kota’ sungguh dibentuk oleh ‘Kita’ yang menghayati dan mempraktikkan ‘Kultur’?

Bagaimana ‘kultur’, ‘kota’, ‘kita’, telah diciptakan (atau terciptakan) dengan sadar/sengaja (intentional) atau tak sadar/sengaja (unintentional)?

Maumerelogia secara etimologi terbentuk dari dua suku kata: maumere dan logia (logos). Maumerelogia dengan demikian berarti ide, gagasan, bahasan tentang Maumere. Sejak semula, Maumerelogia diproyeksikan sebagai sebuah festival yang hendak menyoal Maumere.

Maumerelogia dijalankan dengan visi terciptanya ruang dialog kritis dan reparatif antarwarga tentang ruang hidupnya melalui medium kesenian (artistic encounter). Dengan demikian, program-program dalam Maumerelogia diupayakan berjangkar pada kajian sosial budaya yang kontekstual untuk diobrolkan bersama dengan seluruh partisipan dan audiens. Pertunjukan dan pameran yang dikurasi oleh festival turut membuka percakapan mengenai seluruh kerangka tema festival.

Maumerelogia juga diniatkan untuk membangun hubungan, pertukaran, pengalaman kerja bersama, saling belajar dan menonton di antara para seniman yang terlibat, baik di Maumere maupun dari luar Maumere, sembari terus terbuka dan mengarahkan diri para audiens (publik) sebagai bagian penting dari ekologi seni. Proses yang demikian ditujukan untuk menciptakan lingkungan penciptaan karya dan kepenontonan seni yang diharapkan terus bertumbuh dan saling menumbuhkan.

Sebagai festival yang pertama-tama ditujukan bagi sesama warga, Maumerelogia hendak mengajak warga bersama membaca secara kritis situasi sosial budaya hari ini dan pada saat yang sama menggalang solidaritas antarwarga dalam menghadapi kenyataan-kenyataan kemasyarakatan yang selalu dinamis.